Gerakan Massa Tanah atau Batuan


Oleh: Reza Putra Pratama, S.T.  (GES Environmental Engineer)

A recent graduate of UPN (Universitas Pembangunan Nasional) “Veteran” Yogyakarta and currently working on PT. GES (Ganeca Environmental Services) Bandung as Junior Engineer. Has an interest in field work.


Gerakan Massa Tanah atau Batuan

Proses geologi baik yang berasal dari dalam bumi (endogen) maupun dari luar bumi (eksogen) dapat berpotensi menimbulkan bahaya bagi kehidupan manusia. Bahaya geologi tersebut dikenal dengan sebutan geological hazards. Gerakan massa tanah/batuan, erupsi gunung api, gempa bumi, banjir, erosi, dan kekeringan adalah beberapa contoh dari proses geologi yang berdampak pada aktivitas manusia di berbagai wilayah di muka bumi ini.

Gerakan massa adalah proses perpindahan suatu masa tanah/batuan akibat gaya gravitasi (Noor, 2006). Gerakan massa tanah/batuan telah lama menjadi perhatian ahli geologi karena berdampak terhadap adanya korban jiwa maupun kerugian harta benda. Di Indonesia banyak sekali pemukiman yang dibangun di daerah sekitar perbukitan, dimana pemukiman tersebut kurang memperhatikan masalah kestabilan lereng, struktur batuan, dan proses-proses geologi yang terjadi di daerah tersebut sehingga secara tidak sadar bahaya gerakan massa tanah/batuan setiap saat dapat mengancam jiwa.

Proses terjadinya gerakan massa diawali oleh air hujan dari proses siklus hidrologi yang jatuh ke permukaan tanah, kemudian air tersebut akan meresap ke dalam tanah sehingga akan menambah bobot tanah. Jika air tersebut menembus sampai ke lapisan tanah yang kedap air, lapisan tanah kedap air tersebut akan berperan sebagai bidang gelincir. Adanya bobot tanah dan bidang gelincir ditambah lagi dengan adanya getaran (dari aktivitas manusia/alami) maka akan menimbulkan gerakan massa yang bergerak mengikuti arah lereng kemudian bergerak keluar lereng (Terzaghi, K, dan Peck, R.B, 1967). Proses dan tahapan terjadinya gerakan massa tanah ini, secara sistematik dapat digambarkan sebagai berikut.

Proses Terjadinya Gerakan Tanah dan Komponen-komponen Penyebabnya

Gerakan massa bila dilihat dari karakteristik kecepatan pergerakannya dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu gerakan massa cepat dan gerakan massa lambat. Gerakan massa cepat (rapid mass movement) meliputi pergerakan material yang nampak dapat dilihat secara langsung gerakannya. Pergerakan demikian biasanya terjadi dengan mendadak dan bergerak turun dengan cepat. Pergerakan massa cepat ini, sangat berpotensi membahayakan dan seringkali menimbulkan korban jiwa dan kerusakan bangunan (lihat gambar 2).

Proses Pergerakan Massa Cepat

Sedangkan untuk gerakan massa lambat (slow mass movement) menunjukkan bahwa kecepatannya tidak terasa atau sukar dilihat secara langsung (imperceptible rate) sehingga hanya terasa atau dapat dilihat bila ada akibat yang telah ditimbulkannya seperti miringnya pepohonan, tiang listrik atau retaknya pondasi bangunan dan jalan (lihat gambar 3). Pergerakan ini memiliki kemampuan membawa material dengan volume sangat besar menuruni lereng.

Proses Pergerakan Massa Lambat

Menurut Abramson, dkk (1996) dalam Elita (2014) kestabilan lereng dipengaruhi oleh terjadinya kenaikan tegangan geser dan penurunan kuat geser tanah atau batuan penyusun lereng. Kenaikan tegangan geser dapat disebabkan oleh erosi, adanya aktivitas galian, timbunan dan konstruksi bangunan pada lereng, pembebanan berlebih oleh aktivitas hujan, air yang mengisi retakan batuan, dan pelapukan. Penurunan kuat geser bisa disebabkan oleh komposisi struktur batuan, pelapukan, hilangnya media pengikat antar butiran, tekanan air pori, dan perubahan geometri lereng. Pada massa tanah/batuan yang tidak kompak, pori-porinya sebagian diisi oleh air dan sebagian lainnya diisi oleh udara, sehingga kondisi tanah/batuan menjadi lembab. Dengan kondisi lembabnya ini maka akan menimbulkan kurangnya daya kohesi tanah/batuan tersebut.

Airtanah juga dapat mempengaruhi gerakan massa tanah/batuan. Gerakan airtanah dapat memberikan tekanan terhadap butiran-butiran tanah/batuan sehingga memperlemah kemantapan lereng. Selain itu, airtanah juga dapat melarutkan dan menghanyutkan bahan perekat sehingga memperlemah ikatan antar butir dan berkurangnya daya kohesi. Larut dan hanyutnya bahan perekat menghasilkan rongga-rongga dalam tanah/batuan dan proses tersebut mengurangi kemantapan tanah/batuan.

Bila tidak ditangani dengan bijak, gerakan massa tanah/batuan tentunya akan berakibat fatal terhadap manusia sehigga diperlukan teknik pengolahan yang jitu terhadap suatu lereng sebagai media terjadinya proses gerakan massa. Teknik pengolahan untuk mengelola lereng yang tidak stabil dilakukan dengan 2 pendekatan yaitu pendekatan rekayasa dan penataan ruang. Dalam aspek pendekatan rekayasa, dilakukan pertimbangan-pertimbangan pada aspek-aspek rekayasa geologi dan rekayasa teknik sipil. Pendekatan dengan rekayasa geologi melalui kegiatan pengamatan yang berkaitan dengan struktur, jenis batuan, geomorfologi topografi, geohidrologi dan sejarah hidrologi yang dilengkapi dengan kajian geologi atau kajian yang didasarkan pada kriteria fisik alami dan kriteria aktifitas manusia (SNI 03-1962-1990). Sedangkan rekayasa teknik sipil yaitu melalui kegiatan perhitungan kemantapan lereng dengan mekanika tanah/batuan dan kemungkinan suatu lereng akan bergerak di masa yang akan datang.

Pendekatan penataan ruang dilakukan melalui pertimbangan-pertimbangan pada aspek-aspek penggunaan ruang yang didasarkan pada perlindungan terhadap keseimbangan ekosistem dan jaminan terhadap kesejahteraan masyarakat, yang dilakukan secara harmonis. Penilaian pada struktur ruang dan pola ruang pada kawasan rawan bencana gerakan massa tanah/batuan sesuai dengan tipologi serta kerawanan fisik alami dan tingkat resiko. Menjaga kesesuaian antara kegiatan pelaksanaan pemanfaat ruang dengan fungsi kawasan yang telah ditetapkan dalam rencana tata ruang wilayahnya. Dengan demikian pengelolaan gerakan massa tanah/batuan tidak hanya difokuskan terhadap kajian teknisnya saja, peran pemerintah dan kewaspadaan warga dalam melihat gejala-gejala gerakan massa tanah/batuan menjadi salah satu faktor penting dalam mitigasi geological hazards ini.

Sumber

  • Abramson, L.W., T.S., Sharma, S. & Boyce, G.M., 1996. Slope Stability and Stabilization Methods. New York, USA: Jhon Wiley & Sons, Inc..
  • Anonim. (1990). SNI 03-1962-1990 Tentang Tata Cara Perencanaan Penanggulangan Longsor. Jakarta: SNI.
  • Elita, A. 2014. Kajian dan Upaya Penanggulangan Gerakan Massa Tanah Di Dusun Nglingseng Desa Muntuk Kecamatan Dlingo Kabupaten Bantul. Thesis UGM 2014. (tidak dipublikasikan).
  • Karnawati, D., 2005. Bencana Alam Gerakan Massa Tanah di Indonesia dan Upaya Penanggulangannya.  Yogyakarta: Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknik, UGM.
  • Noor, Djauhari, 2006, Geologi Lingkungan, Yogyakarta: Graha Ilmu.
  • Terzaghi, K, dan Peck, R.B (1967), Soil Mechanics in Engineering Practice, John Wiley and Sons, New York, 2nd.

Disclaimer: You may use and re-use the information featured in this website (not including GES logos) without written permission in any format or medium under the Fair Use term. We encourage users to cite this website and author’s name when you use sources in this website as references. You can use citation APA citation format  as standard citation format. Any enquiries regarding the use and re-use of this information resource should be sent to [email protected]

Related Posts

Write a comment