HYDROSEEDING


Oleh: Reza Putra Pratama, S.T.  (GES Environmental Engineer)

A recent graduate of UPN (Universitas Pembangunan Nasional) “Veteran” Yogyakarta and currently working on PT. GES (Ganeca Environmental Services) Bandung as Junior Engineer. Has an interest in field work.


HYDROSEEDING

Adanya kegiatan konstruksi maupun penambangan secara tidak langsung tentunya akan berpotensi terhadap perubahan suatu lahan. Perubahan lahan tersebut bila tidak ditangani dengan baik dan bijak maka akan mempengaruhi fungsi tanah pada suatu lahan. Bila lahan tersebut terlanjur tidak dikelola dengan baik, fungsi tanahnya lambat laun akan semakin terganggu sehingga lahan tersebut akan rusak.

Pemerintah, sebagaimana yang telah diamanatkan dalam Undang-undang No 37 Tahun 2014 tentang Konservasi Tanah dan Air, menyatakan bahwa tanah dan air merupakan sumber daya alam yang tak terbarukan dan mudah terdegradasi fungsinya karena posisi geografis dan akibat penggunaan yang tidak sesuai dengan fungsi, peruntukan, dan kemampuannya sehingga perlu dilindungi, dipulihkan, ditingkatkan, dan dipelihara melalui Konservasi Tanah dan Air. Konservasi Tanah dan Air itu sendiri merupakan upaya pelindungan, pemulihan, peningkatan, dan pemeliharaan Fungsi Tanah pada Lahan sesuai dengan kemampuan dan peruntukan Lahan untuk mendukung pembangunan yang berkelanjutan dan kehidupan yang lestari (UU no 37 Tahun 2014 Pasal 1 No 2, tentang Konservasi Tanah dan Air).

Terdapat beberapa metode dalam konservasi tanah dan air diantaranya menggunakan metode vegetatif, sipil teknis dengan pembuatan bangunan konservasi, manajemen lingkungan dan metode lainnya. Salah satu metode dimana ketersediaan alat beserta bahannya mudah untuk didapatkan dan sudah tersedia di alam adalah metode vegetatif. Metode vegetatif merupakan suatu upaya terpadu dalam penanggulangan suatu lahan dengan menggabungkan antara jenis dan atau tipe suatu vegetasi dengan teknik dan/atau sistem penanaman dengan tujuan untuk melindungi, memulihkan, meningkatkan dan memelihara fungsi lahan yang terganggu.

Salah satu teknik konservasi tanah dan air dari metode vegetatif adalah hydroseeding. Hydroseeding adalah adalah suatu metode penanaman dengan mencampurkan biji benih tanaman dan nutrien yang diformulasikan khusus dicampur dan diaduk sedemikian rupa didalam tank hydroseeding bersama dengan media air sehingga campuran menjadi homogen, selanjutnya campuran tersebut ditebarkan di permukaan lahan yang terganggu (Pratama, 2016). Hydroseeding umumnya disemprotkan dari kendaraan bertangki (lihat gambar a), namun cara ini akan sulit diterapkan bila kondisi lahan berupa tebingan, karena adanya keterbatasan mobilitas kendaraan. Untuk menangani hal tersebut hydroseeding dapat dilakukan dengan cara manual, atau dikenal dengan sebutan Manual Hydroseeding. Manual Hydroseeding dilakukan dengan cara membawa alat dan bahan yang diperlukan untuk membuat campuran hydroseeding langsung di lapangan dengan penyebaran campuran, dilakukan dengan manual oleh manusia.

Penyebaran Hydroseeding Menggunakan Kendaraan Bertangki

Jenis biji tanaman yang diaplikasikan dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan peruntukan pada area yang akan diaplikasikan, baik itu pemilihan biji tanaman yang bersifat fast grow, native species dan jenis benih pohon atau buah-buahan. Berikut merupakan beberapa jenis biji tanaman yang termasuk kedalam jenis LCC (Legume Cover Crop) diantaranya, Centrosema pubescens (CP), merupakan tanaman jenis fast grow yang mampu memberikan biomassa dan sumber pupuk organik untuk memperkuat agregat tanah, dapat tumbuh pada keadaan tanah yang asam dan kurang subur; Calopogonium mucunoides (CM) merupakan tanaman jenis fast grow yang mampu mengurangi temperatur tanah, meningkatkan kesuburan tanah dengan cara memperbaiki kandungan nitrogen dan pengendali gulma. Dapat tumbuh diberbagai jenis tanah serta dapat bertahan pada tanah yang asam dan kurang subur; Pueraria javanica (PJ) merupakan jenis fast grow yang mampu menjaga kelembaban tanah, mengikat nitrogen dan pengendali gulma (Guanglong et al., 2000); Mucuna bracteata (MB) merupakan jenis fast grow yang mampu mengendalikan gulma, mengikat nitrogen, tahan lama (dapat hidup hingga 30 tahun lebih) memiliki sifat self-destruction ketika tanaman ini kekurangan cahaya matahari (akibat tanaman primer yang telah tumbuh lebat) maka MB akan mengurangi perkembangbiakanya; Crotolaria juncea (CJ) merupakan  tanaman fast grow dengan manfaat untuk mengikat nitrogen dan pupuk hijau (Sheahan, C.M. 2012).

Agar pertumbuhan lebih maksimal dan juga penanaman dengan metode ini dapat berperan ganda sebagai penyetabil lereng maka pemasangan blangket, coco-net/jaring (lihat gambar a) yang terbuat dari serabut kelapa, kayu atau jerami dapat diaplikasikan sebelum campuran hydroseeding disebar. Pemasangan blangket (lihat gambar b), selain memiliki kelebihan yang telah disebutkan terdapat pula kelebihan lainnya. Diantaranya melindungi tanah dari adanya potensi erosi aliran permukaan, bila dipasang di tebingan yang curam dapat berfungsi sebagai tempat menempelnya biji tanaman dari hydroseeding, sebagai tempat disimpannya air karena sifat dari blangket yang porus serta mudah untuk di pasang di lapangan (Oregon Department of Transport, 2006).

Pemasangan Blangket/Coco-net/Jaring di Lapangan

 

Ilustrasi Pemasangan Blangket pada Slope Lereng

Terdapat beberapa manfaat dari penggunaan teknik penanaman hydroseeding. Teknik hydroseeding mampu diaplikasikan pada kondisi tanah apapun, baik itu bertekstur pasiran, lempungan bahkan pada horizon sub soil. Penanaman juga dapat berlangsung pada kemiringan lereng lebih dari 45o, bahkan pada lereng dengan rasio lebih dari 1:1.5. Sebaran benih hydroseeding dapat menjangkau seluruh permukaan tanah, sehingga distribusi merata tersebut menghasilkan waktu pertumbuhan benih yang seragam. Campuran hydroseeding memberikan kondisi yang sempurna kepada benih untuk dapat tumbuh dan berkembang (Oregon Department of Transport, 2006). Namun perlu diperhatikan, bila campuran mulsa yang ditebar jumlahnya terlalu banyak makan akan mengganggu proses perkecambahan. Terlebih bila campuran hydroseeding disebar pada musim penghujan, limpasan air berpotensi merusak sebaran tersebut. Sehingga diperlukan manajemen penanaman yang cerdas agar manfaat dari hydroseeding ini dapat dirasakan sedini mungkin.

 

Sumber

  • Annie. P., Elsie S, and K.I. Punnoose. 2005. Comparative Evaluation of Drymatter producion and nutrient accumulation in the shoots of Pueraria phaseoloides Benth and Mucuna bracteata D.C grown as cover Crops in an immature Rubber (Hevea brasiliensis) Plantation. Natural Rubber Research, 18(1) 87-92.
  • Annie P., Elsie S, and K.I. Punnoose. 2005. Effect of Pueraria phaseloides and mucuna bracteata on the physico-Chemical properties of Soils of immature Rubber Plantations. Natural Rubber Research 18 (1) 93-100.
  • Fantz, P.R. 1996. Taxonomic notes on the Centrosema pubescens Bentham complex in Central America (Leguminosae: Phaseoleae: Clitoriinae). SIDA, 1717, 321-332.
  • Guanglong, Tian; Hauser, S.; Koutika, L.S.; Ishida, F.; Chianu, J.N. (November 2000). “Pueraria cover crop fallow systems: benefits and applicability”. In Tian, G. Sustaining soil fertility in West Africa. Proceedings of a symposium sponsored by the Soil Science Society of America and the American Society of Agronomy. pp. 137–155.
  • Grof, B. and Harding, W.A.T. 1970. Yield attributes of some species and ecotypes of Centrosema in North Queensland. Queensland Journal of Agricultural and Animal Sciences, 2727, 237-243.
  • Kothandaraman, R., J. Mathew, A.K. Krishnakumar, K. Joseph, K. Jayarathnam and M.R. Sethuraj. 1989. Comparative effeicency of Mucuna bracteata. D.C and Pueraria phaseoloides Benth on soil nutrient enrichment, microbial population and growth of Hevea. Indian journal of natural rubber research. 2: 147-150.
  • Kothandaraman, R., J. Mathew, K. Joseph and K. Jayarathnam. 1993. The impact of Bradirhizobium inoculation on nodulation, biomass production and Nitrogen fixation in Pueraria phaseoloides. Indian journal of Natural Rubber Research 6(1&2):51-55.
  • Kothandaraman, R., Premakumari, D. & Sivasankara Panicker. 1987. Studies on growth, nodulation and nitrogen fixation by Mucuna bracteata. Proceedings of the Sixth Symposium on Plantation Crops 1987. Kottayam. 283-288.
  • Mathew. J., K. Joseph, Ratha. L., G. Jose., R. Kothandaraman and C.K. Jacob. Agronomy and Pathology of Plantation Crops. 6 th International PGPR Workshop 2003 Calicut 29-33.
  • McSweeney, C.S. and Wesley-Smith, R.N. 1986. Factors affecting the intake by sheep of the tropical legume, Calopogonium mucunoides. Australian Journal of Experimental Agriculture, 2626, 659-664.
  • Oregon Department of Transport. 2006. Erosion Control Field Manual. Oregon: Geo/Environmental Section.
  • Pizarro, E.A. and Carvalho, M.A. 1997. Evaluation of a Collection of Calopogonium mucunoides Desv. For the Cerrado Ecosystem, Brazil. Journal of Applied Seed Production, 1515, 17-21.
  • Pratama, Reza P. 2016. Kajian Tingkat Bahaya Erosi Tanah Menggunakan Metode Petak Kecil pada Area Revegetasi PT. Antam (Persero) Tbk. UBPE Pongkor, Desa Bantar Karet, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Yogyakarta. UPN Veteran Yogyakarta. (skripsi, tidak dipublikasikan).
  • Setiadi, Yadi. Hydroseeding for Erosion Control and Landscape. Bogor: Fakultas Kehutanan IPB. (Slide Presentasi).
  • Sheahan, C.M. 2012. Plant guide for sunn hemp (Crotalaria juncea). USDA-Natural Resources Conservation Service, Cape May Plant Materials Center. Cape May, NJ. 08210.
  • Veasey, E.A., Werner, J.C., Colozza, M.T., Freitas, J.C.T. de, Lucena, M.A.C. de, Beisman, D.A. and Gerdes, L. 1999. Evaluation of morphological, phenological and agronomic characters of tropical forage legumes in relation to seed production. Boletim de Industria Animal, 5656, 109-125.

Disclaimer: You may use and re-use the information featured in this website (not including GES logos) without written permission in any format or medium under the Fair Use term. We encourage users to cite this website and author’s name when you use sources in this website as references. You can use citation APA citation format  as standard citation format. Any enquiries regarding the use and re-use of this information resource should be sent to [email protected]

Related Posts

Write a comment