IUWASH Plus dan GES Lakukan Studi Tangki Septik Kedap


Oleh: Suci Fitriana br Bangun, S.T., (GES Environmental Engineer)

A graduate from UNPAS (Universitas Pasundan) Bandung and currently working on PT Ganeca Environmental Services Bandung as Junior Environmental Engineer. Has an interest in water and wastewater management, solid waste management, and social interaction with other people. Has hobby traveling, outdoor activity, camping, and cooking.


Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia Nomor 04/PRT/M/2017 Tentang Penyelenggaraan Sistem Pengolahan Air Limbah Domestik, Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Setempat (SPALD-S) didefinisikan sebagai sistem pengelolaan air limbah domestik yang dilakukan dengan mengolah air limbah domestik di lokasi sumber, yang selanjutnya lumpur hasil olahan diangkut dengan sarana pengangkut ke Sub-sistem Pengolahan Lumpur Tinja. Menurut regulasi tersebut, SPALD-S ditujukan untuk hanya melayani kurang dari 11 KK.

SPALD-S yang ada di Indonesia pada umumnya masih dalam kondisi yang kurang baik. Dari beberapa sumber data menunjukkan bahwa masih cukup banyak masyarakat yang menggunakan pengolahan setempat tanpa ada pelapisan kedap di bagian lantai maupun dindingnya (cubluk) atau juga langsung membuang air limbah domestik ke badan air penerima terdekat (selokan, sungai, dll). Hal ini tentu berpotensi mengakibatkan terjadinya dampak negatif terhadap lingkungan, salah satunya yaitu pencemaran air tanah. Salah satu penyebab utama adalah kurangnya pemahaman dari pihak masyarakat tentang kondisi aktual sistem pengolahan setempat yang mereka miliki dan kurangnya sosialisasi oleh pemerintah atau institusi terkait terhadap standar pengolahan setempat yang baik sesuai dengan Standar Nasional Indonesia.

Gambar 1 Kondisi Sistem Pengolahan Air Limbah Setempat di Kota Medan

Sebuah survei sanitasi oleh IUWASH-USAID pada tahun 2015 di Kota Medan dengan 5.000 responden menemukan hasil bahwa hanya 18% rumah yang pernah melakukan pengosongan tangki septik. Hal ini dapat diartikan bahwa hampir 500.000 rumah masyarakat kemungkinan memiliki tangki septik yang tidak kedap atau bocor atau tidak memiliki pelapisan kedap di bagian lantai sama sekali. Kondisi ini masih cukup banyak ditemukan di berbagai daerah di Indonesia. Oleh karena itu, pengembangan terhadap metode konstruksi pengolahan setempat yang kedap penting untuk dilakukan sehingga dapat diterapkan di masyarakat dengan mudah, efektif, dan efisien.

Menindaklanjuti permasalahan yang ada di masyarakat tersebut, IUWASH Plus – USAID bekerjasama dengan Ganeca Environmental Services (GES) untuk melakukan studi pengembangan metode konstruksi pengolahan setempat agar memenuhi Standar Nasional Indonesia. Studi dilakukan dibeberapa lokasi terpilih yang ditentukan berdasarkan kriteria-kriteria yang terlampir pada Permen PUPR No. 04 Tahun 2017.

Kegiatan studi ini dimulai sejak Bulan Oktober 2018 yang dilakukan di Kota Medan dan Deli Serdang dengan nama studi “Decelopment and Testing Technical Options for Upgrading Septic Tank in Medan and Deli Serdang”. Hasil dari studi ini diharapkan dapat diperoleh alternatif metode yang digunakan dalam pekerjaan upgrading tangki septik di Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang.

Gambar 2 Kondisi Sistem Pengolahan Air Limbah Setempat di Kabupaten Deli Serdang
Gambar 3 Kegiatan Kick Off Meeting bersama Stakeholder Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang
Gambar 4 Kegiatan Sosialisasi kegiatan upgrading tangki septik bersama instansi terkait dan masyarakat penerima manfaat Kota Medan

Disclaimer: You may use and re-use the information featured in this website (not including GES logos) without written permission in any format or medium under the Fair Use term. We encourage users to cite this website and author’s name when you use sources in this website as references. You can use citation APA citation format  as standard citation format. Any enquiries regarding the use and re-use of this information resource should be sent to [email protected]

Related Posts