Pengelolaan Air Asam Tambang

Tantangan Pengelolaan Air Asam Tambang


Oleh: Dr. M. Sonny Abfertiawan, S.T., M.T. (GES Environmental Engineer)


Air asam tambang merupakan salah satu isu lingkungan yang seringkali dihadapi oleh perusahaan pertambangan, baik tambang batubara maupun bijih. Hal ini tentu berpotensi menimbulkan konflik kepada masyarakat lokal sekitar area penambangan dan berdampak pada terganggunya operasional penambangan. Oleh karena itu, penting bagi seluruh stakeholders, khususnya perusahaan pertambangan, untuk melakukan upaya-upaya pencegahan sehingga potensi dampak negatif terhadap lingkungan dapat diminimalkan. Pada dasarnya, industri pertambangan yang meliputi setiap bagian dari siklus kegiatan penambangan memiliki potensi untuk dapat menimbulkan dampak positif maupun dampak negatif bagi seluruh komponen dalam aspek sosial, ekonomi dan lingkungan.

Salah satu isu besar dalam kegiatan pertambangan yakni pembentukan air asam tambang. Air asam tambang adalah air yang berasal dari galian batuan yang bersifat asam dan tersingkap bersama logam-logam yang dulunya ada dibumi. Air asam tambang ini akan merembes kedalam sumber-sumber air, mengakibatkan kualitas pH yang rendah, peningkatan kadar logam terlarut dan terganggunya ekosistem mahluk hidup sekitarnya. Air asam tambang yang timbul akibat dari kegiatan pertambangan berpotensi memberikan dampak negatif terhadap penurunan kualitas lingkungan, terutama bila sudah masuk ke dalam sistem air permukaan, air bawah tanah serta tanah di sekitarnya. Berdasarkan dari hal tersebut di atas, prediksi keberadaan sumber dari air asam tambang harus telah dilakukan sejak awal operasi sehingga upaya pencegahan dan pengelolaan penurunan kualitas lingkungan akibat air asam tambang dapat dilakukan dengan baik. Pembahasan tentang proses pembentukan air asam tambanng dapat dibuka pada link berikut ini: https://gesi.co.id/apa-itu-air-asam-tambang/

Pengelolaan Air Asam Tambang yang Terintegrasi dengan Penambangan

Pengelolaan air asam tambang harus dilakukan secara komprehensif, dimulasi sejak tahap eksplorasi hingga tahap eksploitasi sehingga potensi dampak negatif pada tahap pascatambang (mine closure) dapat diminimalkan. Hal ini penting untuk dipertimbangkan karena dari sudut pandang perusahaan tentu kualitas lingkungan yang tidak sesuai baku mutu lingkungan di pascatambang merupakan cost, terlebih tidak ada lagi aktivitas produksi untuk membiayai kegiatan pengelolaan lingkungan tersebut.

Sistem pengelolaan air asam tambang secara umum dapat dilihat pada Gambar 1 dibawah ini. Upaya pencegahan air asam tambang harus dilakukan sejak tahapan eksplorasi dimana sampel dari lubang bor eksplorasi (drilling core) dilakukan pengujian laboratorium yakni static test untuk mengetahui karakteristik batuan penutup (overburden) yang akan digunakan sebagai data dalam pembuatan model geokimia (geochemical model). Dalam hal perencanaan penambangan yang terintegrasi, model geokimia menjadi tahapan awal yang penting guna mendapatkan berbagai informasi sebagai landasan dalam merencanakan tiap tahapan penambangan.

Gambar 1. Konsep Pengelolaan Lingkungan di Pertambangan, khususnya Air Asam Tambang (Sumber: Abfertiawan, 2010)

Pada tahapan pembuatan model geokimia, tentu selain dari model cadangan batubara, model yang harus dikembangkan yakni model persebaran batuan berpotensi membentuk asam (Potentially Acid Forming/PAF) dan yang tidak berpotensi membentuk asam (Non acid forming/NAF). Model persebaran ini akan bermanfaat untuk mengetahui karakteristik dan volume batuan penutup. Sehingga dapat dilakukan perencanaan terhadap disain daerah penimbunan yang ditujukan untuk mencegah pembentukan air asam tambang. Tahapan ini merupakan kunci sukses dari upaya pencegahan air asam tambang.

Hasil model geokimia tersebut menjadi dasar dalam melakukan perencanaan penimbunan batuan penutup maupun tanah dan menjadi kunci keberhasilan dalam kegiatan revegetasi. Ilustrasi tahapan metode pencegahan air asam tambang melalui enkapsulasi material PAF dengan menggunakan NAF dapat dilihat pada Gambar 2 berikut ini. Aternatif-alternatif metode pencegahan air asam tambang akan saya coba deskripsikan dalam kesempatan lain. 🙂

Gambar 2. Overburden management dalam upaya pencegahan air asam tambang di daerah timbunan. Penggunaan metode dry cover untuk meminimalkan kontak material sulfida terhadap udara dan/atau air (Abfertiawan, 2010)

Selain pencegahan air asam tambang, tentu upaya-upaya pengolahan air asam tambang juga menjadi bagian dari sistem pengelolaan air asam tambang. Hal ini dikarenakan, salah satu sumber pembentukan air asam tambang terjadi selama kegiatan penambangan yakni pit tambang dan kegiatan penimbunan yang belum final. Selama tahapan kegiatan-kegiatan tersebut air asam tambang sulit untuk dihindari. Oleh karena itu, water management menjadi hal yang harus diperhatikan sehingga air asam tambang dapat dikelola dengan baik sebelum dialirkan ke badan air penerima. Pada intinya, air yang berasal dari pit penambangan dan disposal harus masuk kedalam sistem pengolahan air asam tambang (dan kekeruhan akibat erosi). Pengolahan air tambang dilakukan dengan berbagai alternatif teknologi, tergantung dengan pertimbangan teknis dan non teknis.

Ditulis oleh: Muhammad Sonny Abfertiawan

https://www.msonnyabf.id/blog/#pengelolaan-air-asam-tambang

Related Posts

Write a comment