Sengon Primadona Dunia Tambang


Oleh: Reza Putra Pratama, S.T.  (GES Environmental Engineer)

A recent graduate of UPN (Universitas Pembangunan Nasional) “Veteran” Yogyakarta and currently working on PT. GES (Ganeca Environmental Services) Bandung as Junior Engineer. Has an interest in field work.


Sengon

Kegiatan pertambangan tentunya berpotensi untuk mengganggu lahan dimana kegiatan penambangan akan berlangsung. Land clearing sebagai salah satu tahap awal dalam kegiatan eksplorasi tentunya akan mengakibatkan hilangnya pohon atau tanaman dan terganggunya fungsi suatu lahan. Maka dari itu rencana reklamasi menjadi salah satu syarat wajib dalam kegiatan usaha tambang. Menurut Peraturan Menteri dan Sumber Daya Mineral No 18 Tahun 2008 tentang Reklamasi dan Penutupan Tambang, menyatakan bahwa reklamasi adalah kegiatan yang bertujuan memperbaiki atau menata kegunaan lahan yang terganggu sebagai akibar kegiatan usaha pertambangan agar dapat berfungsi dan berdaya guna sesuai dengan peruntukannya.

Salah satu kegiatan yang termasuk kedalam aktivitas reklamasi adalah kegiatan revegetasi. Menurut Peraturan Pemerintah No 76 Tahun 2008 tentang Rehabilitasi dan Reklamasi Hutan, menyatakan bahwa revegetasi adalah usaha untuk memperbaiki dan memulihkan vegetasi yang rusak melalui kegiatan penanaman dan pemeliharaan pada lahan bekas penggunaan kawasan hutan. Tidak semua jenis tanaman, dikategorikan kedalam tanaman revegetasi, terdapat persyaratan khusus agar suatu tanaman tergolong kedalam tanaman revegetasi. Berikut merupakan persyaratan tanaman revegetasi, diantaranya mempunyai fungsi penyelamatan tanah dan air dengan persyaratan tumbuh yang sesuai dengan keadaan lokasi, baik iklim maupun tanahnya; mempunyai fungsi mereklamasi tanah; hasilnya dapat diperoleh dalam waktu yang tidak terlalu lama; tumbuh cepat & mampu tumbuh pada tanah kurang subur; tidak mengalami gugur daun pada musim tertentu; mempunyai perakaran yang lebar dan atau dalam; dan tanaman harus bisa dimanfaatkan kemudian hari, artinya mempunyai prospek ekonomi yang baik.

Tanaman merupakan obyek utama dalam kegiatan revegetasi, oleh karenanya diperlukan pemilihan tanaman yang cocok digunakan dalam kegiatan tersebut. Terdapat beberapa tanaman yang umum digunakan sebagai tanaman revegetasi dalam kegiatan usaha tambang diantaranya puspa, ganitri, rasamala, kayu putih, pucuk merah dan sengon laut. Diantara tanaman tersebut terdapat satu tanaman yang menjadi primadona utama kegiatan revegetasi, yaitu tanaman Sengon Laut. Sengon Laut memiliki nama latin Paraserianthes falcataria (L.) Nielsen yang mana merupakan tanaman dari Family Fabaceae dengan Subfamily Mimosoideae. Sengon Laut mampu tumbuh sampai dengan ketinggian lebih dari 40 meter dan diameter mencapai lebih dari 1 meter (Krisnawati, 2011).

Pertumbuhan tanaman Sengon Laut menurut Bhat et al. (1998) menyatakan bahwa dalam kondisi optimal tanaman ini dapat tumbuh untuk kurun waktu 1 tahun mencapai ketinggian 7 meter, sedangkan dalam waktu 3 tahun dapat mencapai ketinggian 16 meter serta bila mencapai umur 9 tahun ketinggiannya mampu mencapai 33 meter. Kurinobu et al. (2007) menambahkan bahwa hasil pemantauan terhadap tanaman Sengon Laut yang ditanam di Kediri Jawa Timur pada umur 3-5 tahun, tanaman ini memiliki diameter berkisar 11.3-18.7 cm (maksimum diameter 25.8 cm) dan memiliki ketinggian berkisar 11.7-20.5 meter (dengan maksimum ketinggian mencapai 23.5 meter).

Tanaman Sengon Laut dapat tumbuh di berbagai macam jenis dan karakteristik tanah. Tanaman ini tidak membutuhkan tanah yang subur dan dapat tumbuh baik di tanah yang kering dan tandus, bahkan dapat tumbuh di tanah yang asam asalkan asupan airnya tercukupi (Soerianegara dan Lemmens 1993). Di Indonesia tanaman ini dapat tumbuh di beberapa jenis tanah diantaranya latosols, andosols, luvial dan podzolic merah kekuningan, namun untuk jenis tanah grumusol tanaman ini tidak dapat tumbuh (Charomaini dan Suhaendi 1997).

Sengon laut dapat tumbuh optimal pada kondisi ketinggian lahan 1600 mdpl dengan curah hujan berkisar 2000-3500 mm/tahun dan suhu berkisar 22-29 °C (Krisnawati, 2011). Namun menurut Soerianegara dan Lemmens (1993), menyatakan bahwa Sengon Laut dapat tumbuh pada kondisi dimana curah hujan dapat mencapai 4000 mm/tahun dan dapat bertahan lebih dari empat bulan pada musim kering. Untuk kondisi ketinggian lahan, Sengon Laut dapat tumbuh di ketinggian 3300 mdpl. Hasil penelitian di Papua, tanaman Sengon Laut dapat tumbuh di ketinggian lahan 55 mdpl (Charomaini dan Suhaendi 1997).

Berkaitan dengan produksi kayu yang dihasilkan dari tanaman Sengon Laut, umumnya dapat digunakan sebagai material bangunan rumah, pulp kertas dan bahkan menjadi furniture. Sebagai tanaman yang cepat tumbuh, Sengon Laut sering digunakan sebagai tanaman revegetasi yang memiliki beberapa manfaat. Guguran daun yang layu serta ranting-ranting tanaman yang jatuh berkontribusi sebagai penyedia unsur nitrogen dan pupuk organik untuk permukaan tanah (Orwa et al. 2009). Bahkan sebagian masyarakat di Indonesia biasanya menanam tanaman ini di halaman mereka dimana kayu Sengon Laut digunakan untuk keperluan kayu bakar dan dedaunannya digunakan sebagai campuran pakan ternak. Manfaat lain dari tanaman Sengon Laut adalah sebagai tanaman pengontrol erosi, karakteristik tanaman Sengon Laut yang mana merupakan tanaman fast growing membuat tanaman ini termasuk kedalam tanaman pioneer dimana tanaman pioneer memiliki peran sebagai pemberi naungan terhadap tanaman revegetasi lainnya. Tanaman Sengon Laut sangat cocok ditanam di area tebingan karena akarnya yang menjalar sehingga memberikan kontrol yang lebih terhadap adanya potensi gerakan massa tanah. Kejadian erosi dan gerakan massa tanah umumnya menjadi penyebab utama gagalnya tanaman reklamasi untuk tumbuh. Dengan adanya berbagai macam manfaat dari tanaman Sengon Laut ini, tak hayal tanaman ini disebut sebagai primadona dunia tambang.

Refrensi

  • Bhat, K.M., Valdez, R.B. and Estoquia, D.A. 1998. Wood production and use. In: Roshetko, J.M. (ed.) Albizia and Paraserianthes production and use: a field manual, 13–17. Winrock International, Morrilton, Arkansas, USA.
  • Charomaini, M. and Suhaendi, H. 1997. Genetic variation of Paraserianthes falcataria seed sources in Indonesia and its potential in tree breeding programs. In: Zabala, N. (ed.), International workshop on Albizia and Paraserianthes species, 151–156. Proceedings of a workshop held November 13–19, 1994, Bislig, Surigao del Sur, Philippines. Forest, Farm, and Community Tree Research Reports (Special Issue). Winrock International, Morrilton, Arkansas, USA.
  • Krisnawati, H., Varis, E., Kallio, M. and Kanninen, M. 2011. Paraserianthes falcataria (L.) Nielsen: ecology, silviculture and productivity. CIFOR, Bogor, Indonesia.
  • Kurinobu, S., Daryono, P., Naiem, M. and Matsune, K. 2007. A provisional growth model with a size–density relationship for a plantation of Paraserianthes falcataria derived from measurements taken over 2 years in Pare, Indonesia. Journal of Forest Research 12: 230–236.
  • Orwa, C., Mutua, A., Kindt, R., Jamnadass, R. and Anthony, S. 2009. Agroforestry tree database: a tree reference and selection guide version 4.0.
  • Soerianegara, I. and Lemmens, R.H.M.J. 1993. Plant resources of South-East Asia 5(1): Timber trees: major commercial timbers. Pudoc Scientific Publishers, Wageningen, Netherlands.
  • Peraturan Menteri dan Sumber Daya Mineral No 18 Tahun 2008 tentang Reklamasi dan Penutupan Tambang.
  • Peraturan Pemerintah No 76 Tahun 2008 tentang Rehabilitasi dan Reklamasi Hutan.

 


Disclaimer: You may use and re-use the information featured in this website (not including GES logos) without written permission in any format or medium under the Fair Use term. We encourage users to cite this website and author’s name when you use sources in this website as references. You can use citation APA citation format  as standard citation format. Any enquiries regarding the use and re-use of this information resource should be sent to [email protected]

Related Posts

Write a comment